Memperingati Hari Anak Nasional

Pada 23 Juli 2017

IKTERUS NEONATORUM

a

Ikterus neonatorum adalah perubahan warna kuning yang terjadi pada neonatus atau bayi yang baru lahir. Ikterus neonatorum dapat bersifat fisiologis atau normal dan patologis atau tidak normal. Pada bayi baru lahir, sifat patologis atau tidak normal dapat mengancam nyawa. Sekitar 65% dari bayi baru lahir menderita ikterus pada minggu pertama setelah lahir dan sekitar 1% mengalami kern ikterus (sindrom kerusakan otak). Pada ras Asia ditemukan lebih sering mengalami ikterus neonatorum dengan kadar bilirubin > 12 mg/dL dibandingkan ras kulit putih dan negro. Angka kejadian ikterus neonatorum pada bayi prematur lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan.

GEJALA 
Gejala utama yang dapat dilihat adalah warna kuning pada mata, rongga mulut, dan kulit. Perubahan ini awalnya tampak dari mata lalu menjalar hingga ke dada, perut, tangan, paha, hingga ke telapak kaki sesuai tingginya kadar bilirubin dalam darah, makin tinggi makin  ke bawah tanda itu nampak. Sangat penting untuk mengetahui awal terjadinya kuning pada bayi, karena dapat menentukan sifat ikterus, yaitu fisiologis atau patologis.  Selain itu, pada bayi dengan ikterus neonatorum fisiologis, bayi tampak sehat dan tidak rewel. Apabila ditemukan kuning disertai dengan anak lesu, malas menyusu, dan rewel, perlu dicurigai sebagai ikterus neonatorum patologis dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Tanda-tanda terjadinya ikterus neonatorum yang bersifat fisiologis :

  1. Gejala kuning muncul pertama kali lebih dari 24 jam setelah lahir
  2. Kenaikan kadar bilirubin < 5 mg/dL
  3. Puncak dari kenaikan kadar bilirubin muncul di hari ke 3-5 dengan kadar bilirubin < 15 mg/dL
  4. Gejala kuning yang muncul menghilang dalam waktu 1 minggu untuk bayi yang cukup bulan dan 2 minggu pada bayi yang premature atau kurang bulan.

Apabila kuning yang muncul selain dari kriteria yang ada di atas, maka dimasukkan ke dalam tipe ikterus neonatorum yang bersifat patologis sehingga perlu evaluasi dan pemeriksaan yang lebih lanjut.

PENYEBAB

  1. Penyakit ini pada dasarnya terjadi ketika tubuh bayi memiliki kadar bilirubin sangat tinggi dalam darah. Bilirubin merupakan zat yang menghasilkan warna kuning ketika sel darah merah dalam tubuh bayi pecah.
  2. Bayi memiliki jumlah sel darah merah yang sangat tinggi sejak baru lahir sehingga ketika sel darah merah pecah menghasilkan bilirubin lebih tinggi.
  3. Belum sempurnanya kinerja hati sebagai organ penting untuk menghilangkan bilirubin dalam tubuh. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi yang terlahir prematur, dimana organ tubuh belum terbentuk sempurna saat baru lahir.
  4. Bayi yang memiliki usus dengan fungsi belum sempurna, sehingga kadar bilirubin meningkat dengan cepat. Pada bayi baru lahir usus belum memiliki organisme yang bisa mengelola bilirubin, akibatnya bilirubin akan diserap ke dalam aliran darah kemudian terjadilah ikterus neonatorum
  5. Bayi yang tidak menerima colostrum dan ASI cukup, akibatnya usus bayi menyerap bilirubin lebih tinggi. Beberapa bayi memang bisa mengalami ini akibat produksi ASI tidak banyak atau tidak cukup sehingga bayi kurang ASI. Beberapa bayi juga tidak mau minum susu pengganti seperti susu formula yang khusus diberikan pada bayi.
  6. Bayi yang memiliki rhesus darah berbeda dengan ibu, sehingga tubuh bayi menghancurkan sel darah merah dengan sangat cepat. Perbedaan rhesus ini biasanya akan diketahui setelah bayi lahir. Ini masalah rumit karena bayi memerlukan penanganan khusus, yaitu di antaranya dg transfusi tukar (tunggu artikel kami berikutnya tentang Transfusi Tukar).
  7. Bayi mengalami infeksi berat, terutama infeksi pada bagian sistem pencernaan yang menyebabkan fungsi usus terganggu.
  8. Ketika kadar enzim G6PD pada bayi sangat rendah. Enzim ini sangat penting untuk membantu sel darah merah dalam tubuh bayi agar tidak terjadi kerusakan atau pecah. Jika tubuh bayi kurang enzim ini maka sel darah merah akan pecah dengan cepat sehingga kadar bilirubin juga sangat tinggi. Ibu hamil yang kurang gizi sangat rentan dengan resiko ini.
  9. Bayi mengalami penyakit hati atau kerusakan hati sehingga tubuh bayi tidak bisa mengurangi bilirubin. Kerusakan hati paling sering terjadi selama bayi masih dalam bentuk janin dalam rahim ibu hamil. Kemudian ketika lahir maka kadar bilirubin dalam tubuh bayi menjadi sangat tinggi.

PENGOBATAN
Pada bayi yang mengalami ikterus neonatorum fisiologis dapat dijemur di bawah sinar matahari pagi antara 7-9 pagi selama 15 menit. Sinar matahari mengandung sinar biru-hijau yang dapat mengubah bilirubin indirek menjadi bilirubin yang lebih mudah dibuang. Selain itu, matahari pagi berguna sebagai sumber vitamin D.
Pada bayi yang kadar bilirubin indireknya tinggi dan bersifat patologis dapat dilakukan fototerapi dengan menggunakan sinar berwarna biru - hijau.  Sinar yang berwarna biru - hijau dapat mengubah bilirubin indirek menjadi bentuk bilirubin yang lebih mudah dibuang sehingga tidak berbahaya. Apabila ikterus neonatorum patologis tidak diterapi dengan adekuat, maka akan terjadi kern ikterus dan bilirubin indirek dapat menembus lapisan sawar darah otak sehingga dapat merusak sel-sel saraf. Kerusakan yang ditimbulkan bersifat permanen dan dapat menyebabkan kecacatan.

 

Untuk konsultasi seputar kesehatan anak bisa dilakukan di Rumah Sakit Citra Medika Sidoarjo oleh Dokter :
dr. Anggono RA, Sp.A       : Hari Senin, Rabu dan Jumat pukul 15.00 WIB – selesai.
dr. Benny Wibisono, Sp.A : Hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 WIB – 15.00 WIB.

Sumber :
http://www.kerjanya.net/faq/4653-ikterus-neonatorum.html
http://hamil.co.id/bayi/bayi-kuning/ikterus-neonatorum