Kenali Tanda Gangguan Pendengaran Pada Anak

a

Gangguan pendengaran bisa berupa gangguan ringan, yakni menurunnya fungsi pendengaran, tetapi masih bisa berkomunikasi dengan baik. Bisa juga gangguan sangat berat atau mengalami tuli total, yakni tidak bisa mendengar sama sekali meskipun ada yang berteriak. Gangguan pendengaran sering luput dari perhatian karena tidak terlihat secara fisik. Meski demikian, gangguan pendengaran tak bisa dianggap sepele karena bisa menurunkan kualitas hidup. Bertepatan dengan Hari Pendengaran Sedunia di Maret ini, mari kenali beberapa penyebab gangguan pendengaran.

  1. Tuli sejak lahir.

    Tuli sejak lahir atau kongenital di Indonesia diperkirakan terjadi pada 6500 anak setiap tahunnya. Tuli sejak bayi bisa mengganggu kemampuan bicara anak dan bisa berpengaruh pada pendidikannya. Maka anak baru lahir seharusnya diperiksa dengan alat OAE (Oto-Acoustic Emission). Bila ada indikasi masalah pendengaran, usia 3 bulan kembali menjalani pemeriksaan secara lengkap. Karena dapat berpengaruh pada kemampuan berbicara pada anak.

  2. Infeksi telinga tengah dapat terjadi pada anak-anak.

    Umumnya masalah ini ditandai dengan batuk, pilek, atau radang tenggorokan. Bila tidak segera diatasi, infeksi bisa menjalar ke telinga tengah melalui saluran yang menghubungkan hidung dan telinga. Pada tahap lanjut bisa menyebabkan pecahnya gendang telinga.

  3. Kotoran telinga.

    Menumpuknya serumen atau kotoran telinga bisa menyebabkan gangguan pendengaran ringan. Bila telinga kemasukan air, serumen dapat mengembang dan terasa telinga seperti tertutup. Hindari membersihkan telinga sendiri dengan menggunakan korek kuping. Kebiasaan itu malah bisa mendorong serumen lebih dalam ke telinga.

  4. Tuli akibat bising.

    Siapa sangka, paparan suara bising yang terlalu keras dalam waktu lama pun dapat merusak pendengaran bahkan bisa sampai menyebabkan ketulian. Batas aman tingkat kebisingan bagi pendengaran adalah tak lebih dari 80 desibel. Bila terlalu sering mendengar suara bising di atas 80 desibel, fungsi telinga bisa rusak. Misal, suara bising yang keras bisa dijumpai pada pusat permainan anak di mall, saat nonton konser musik, hingga bengkel mesin di sekolah menengah kejuruan jurusan teknik. Untuk mencegahnya, hindari paparan bising yang keras dan terlalu lama.

  5. Tuli pada usia lanjut.

    Proses penuaan juga terjadi pada telinga. Biasanya penurunan fungsi pendengaran terjadi pada usia di atas 65 tahun. Lansia jadi sulit mendengar lebih baik dari biasanya. Pada lansia kesulitan mendengar bisa menyebabkan emosi tidak stabil, pemarah, komunikasi dengan keluarga terganggu, hingga depresi.

Sumber: www.alodokter.com/gangguan pendengaran

Pemeriksaan Pendengaran dengan Audiogram

Klinik THT Rumah Sakit Citra Medika

dr. Tutut, Sp.THT

Hari Rabu, pukul 13.00 WIB - Selesai