5 Gangguan Mental yang Kerap Dialami Anak Milenial

Tidak hanya pada dewasa, gangguan mental atau masalah kejiwaan lebih mudah terjadi pada generasi muda, terutama remaja yang baru menapaki usia dewasa muda. Tentu saja, ada banyak hal yang menyebabkan kondisi ini, seperti sering mengalami perilaku tidak menyenangkan yang berujung trauma, baik di lingkungan sekitar dan keluarga.

Trauma yang tidak teratasi ini terakumulasi dan menyebabkan stres. Sayangnya, tidak banyak orangtua yang menyadari anak mereka mengalami gangguan mental. Padahal, gejalanya mudah dikenali, seperti suasana hati yang cenderung berubah dalam waktu yang terbilang singkat, mudah marah dan emosional, hingga menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan. 

Sebenarnya, apa saja jenis gangguan mental pada anak milenial yang perlu diketahui para orangtua? Berikut beberapa di antaranya:

Gangguan Kecemasan

Sering kali, anak mengatasi sesuatu hal yang sedang ia alami dengan kecemasan atau ketakutan yang berlebihan. Hal ini memicu gangguan kecemasan pada dirinya. Jenisnya beragam, mulai dari serangan panik, kecemasan umum, sosial, hingga fobia terhadap sesuatu hal. Gejalanya tentu saja cemas dan takut yang tidak wajar, bahkan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. 

ADHD

Gangguan mental pada anak milenial selanjutnya adalah ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Gangguan mental ini menyerang bagian otak dengan gejala kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif yang mengganggu kerja otak. Meski banyak anak yang bisa menyembunyikannya ketika masa sekolah menengah, tingginya tuntutan membuat mereka tak lagi mampu mengendalikan ADHD ini. Sayangnya, hal tersebut bisa menyebabkan gangguan lain, salah satunya adalah gangguan belajar, terlebih jika tidak segera mendapatkan penanganan.

Gangguan Makan

Bulimia, anoreksia, dan kecenderungan makan berlebihan menjadi tiga jenis gangguan makan yang kerap menyerang anak-anak remaja dan generasi milenial. Seringnya, kondisi ini dilatarbelakangi oleh tingginya kadar stres pada anak, dan mereka melampiaskannya dengan makan berlebihan untuk mencari ketenangan. Sayangnya, pada kasus bulimia, makanan yang sudah dimakan kembali dimuntahkan, sehingga lama-kelamaan tubuh kehilangan beratnya. 

Depresi

Tidak hanya orang dewasa, depresi dini dapat terjadi pada anak-anak, terutama remaja yang masih berada pada masa perkembangan. Jangan pernah diabaikan, karena depresi yang tidak tertangani bisa memicu terjadinya kondisi lain yang lebih membahayakan, seperti keinginan menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri. Sayangnya, depresi lebih sering tidak teratasi, dan ini membuat angka kematian remaja karena bunuh diri semakin meningkat. 

Bipolar

Gangguan bipolar menyebabkan terjadinya perubahan suasana hati yang tidak normal pada aktivitas dan energi. Anak yang mengidap gangguan ini bisa memiliki energi yang begitu besar, sehingga ia bisa menjadi lebih aktif dibandingkan dalam keadaan normal. Namun, di saat yang hampir bersamaan, ia bisa tiba-tiba berubah depresi, merasa sangat terpuruk, dan kehilangan keinginannya untuk beraktivitas. 

Berdasarkan gangguan mental yang paling sering terjadi. Sebagai orangtua, ayah dan ibu tentu harus mengenali gejalanya lebih dini, supaya penanganan dan pengobatan bisa diberikan. Jangan ragu membawa anak terapi, karena ini membantu mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi.

Kini, ibu dan ayah dapat berkonsultasi dengan dokter Psikiatri di Rumah Sakit Citra Medika Sidoarjo dengan jadwal praktek :

dr. Ade Irawati, SpKJJumat16.00 - 18.00 WIB

Sumber: https://www.halodoc.com/5-gangguan-mental-yang-kerap-dialami-anak-milenial